Perkembangan kehidupan politik negara-negara Timur Tengah tidak terlepas dari bagaimana peran elit politik dalam menjalankan kekuasaan politiknya. Negara-negara Arab sedang menjalankan modernisasi. Dari kekuasaan yang monariki menuju modernisasi atau demokrasi. Para pemimpin Arab mendambakan modernisasi karena mereka merasa ada sesuatu yang tidak mereka punya seperti yang dimiliki oleh bangsa lain. Terlebih dengan adanya tindak ketidakpuasan masyarakat Arab terhadap sistem politik lama, kehidupan sosial dan ekonomi yang ada, standar kehidupan yang rendah, kemampuan yang terbatas, pendidikan yang kurang, bahkan masalah sosial yang lainnya. Disinilah peran pemimpin atau elit politik diperlukan untuk membawa suatu perubahan negara Arab yang lebih baik.
Masalah pusat pemerintahan di dunia saat ini Arab adalah legitimasi politik. Dimana Kurangnya sumber daya politik sangat diperlukan terutama sifat pemimpin politik Arab yang kurang mempunyai karakter kuat maupun otokratis tidak stabil dari semua pemerintah Arab saat ini. Gaya memimpin dan perilaku pemimpin merupakan dua hal yang sangat menentukan keberhasilan dalam memimpin kelompoknya. Masalah legitimasi ini juga dikarenakan masalah komunitas dan konflik di negara Arab yang tidak mencapai suatu titik penyelesaian. Jika membahas perjalanan elit politik di Timur Tengah, penting pula untuk mengetahui gaya kepemimpinan politik mereka dalam menjalankan tatanan pemerintahan suatu negara, khususnya di Timur Tengah, dan bagaimana gaya kepemimpinan mempengaruhi politik domestik dan internasional. Tiga gaya kepemimpinan tersebut adalah tradisional, berokrasi modern, dan karismatik. Dan untuk mengilustrasikan 3 gaya tersebut, saya memfokuskan pada 3 figur penting abad 20 dalam poliik mesir, yaitu King Farouk (tradisional), Gamal Abdel Nasser (charismatic), dan Anwar Sadat (berokrasi modern).
Pemimpin tradisional tergantung pada kekuatan tradisi, atau interpretasi tentang hal itu, untuk mendirikan legitimasinya sebagai penguasa. Legitimasi mengacu pada persepsi publik akan hak penguasa dalam posisi kepemimpinan. Tradisi yang dimaksud berdasarkan keputusan di dalam keluarga kerajaan sendiri. Sebagai contoh, Mohammed Reza Pahlevi, raja pertama Iran yang bertanggung jawab atas rakyatnya, karena itu ia melakukan pelayanan yang penting bagi masyarakat iranian. Sama halnya dengan raja Mesir yang melakukan hal serupa. Dengan ini, menunjukkan bahwa elit tradisional responsif terhadap kesulitan kontemporer. Tradisi dikerahkan untuk melegitimasi perubahan dan perubahan dan kepemimpinan baru. Hak atau legitimasi para pemimpin tradisional yang sering terikat di persimpangan tradisi antara politik dan keagamaan , merupakan faktor paling penting dalam melegitimasi rezim tradisional. Dan dilain sisi, pemimpin tradisional telah berusaha untuk memodernisasi sistem politik, sosial, dan ekonomi tanpa mengorbankan hak mereka untuk memerintah. Contohnya, Raja Farouk dari mesir. Banyak karakteristik pemimpin politik tradisional yang dipamerkan dalam pengalaman Raja Farouk mesir, raja Mesir terakhir. Dimana pada kepemimpinannya, terjadi krisis legitimasi karena tindakannya sendiri. salah satu ciri utama dari kepemimpinan politik tradisional yaitu keengganan yang besar untuk berbagi kekuasaan politik dengan siapa pun, terutama dengan kelompok-kelompok massa. Hal ini bukan untuk menyiratkan bahwa Farouk kehilangan kebijakan atau ambisi, malah sebaliknya. Karena ambisi yang dia bawa termasuk untuk memperluas basis kekuasaan politiknya. Farouk menunjukkan orientasi tradisional untuk kekuasaan politik dengan cara lain. daya tarik dengan upacara, ritual kemegahan, dan keadaan mencerminkan kepedulian pemimpin tradisional untuk mengkonfirmasi pernyataan dan pemeliharaan otoritas tradisional. Caranya malah menimbulkan hedonism yang berlebihan. Sehingga malah bukan simpati yang didapat, tetapi pertentangan dari rakyat yang menganggap kebijakannya bertolakbelakang pada ketentuan islam yang menjadi landasannya. Sehingga Farouk mengalami krisis kepercayaan dalam kepemimpinan tradisional, yang merusak banyak pemimpin timur tengah lainnya pada abad ini.
Tipe yang kedua adalah birokrasi modern. Birokrasi Modern didefenisikan dengan ciri-ciri tertentu seperti adanya spesialisasi, berdasarkan pola hukum, serta adanya pemisahan yang tegas dengan urusan pribadi pejabat. Max Weber mengidentifikasikan ciri-ciri birokrasi modern dalam bentuk yang ideal (ideal type) dan menyebut birokrasi tersebut sebagai birokrasi yang rasional dan berdasarkan pada hukum rational legal bureaucracy. Hal ini dicontohkan oleh Anwar Sadat yang menggunakan attitude sebagai para penyelenggara birokrasi publik yang dapat beradaptasi pada model Birokrasi Modern yang sangat menekankan profesionalitas. Kehadiran menariknya adalah ketiadaan pencampuradukan tanggung jawab resmi dengan kepentingan pribadi pejabat. Inilah sisi birokrasi yang dibawa oleh Anwar Sadat. Hal ini srupa oleh kepemimpinan Gamal Abdel Nasser yang kharismatik. Dimana perannya untuk mem
Dengan masalah yang terjadi di negara Arab, sudah terlihat bahwa yang menjadi faktor para elit politik di Timur Tengah banyak mengalami krisis legitimasi adalah adanya krisis yang terjadi secara berurutan, dimana krisis identitas, krisis konstitusi, krisis kelembagaan dan krisis kepemimpinan telah terjadi sebelumnya yang akhirnya mencapai krisis kebijakan. Dan saat semuanya sudah mengalami krisis maka krisis legitimasipun terjadi.
Oleh karena itu, sebaiknya para elit politik melakukan strategi khusus untuk mengatasi krisis legitimasi yang terjadi saat ini. Tatanan legitimasi dapat dibentuk oleh tradisi, efek yang positif, sikap emosional, kepercayaan rasio dalam nilai yang mutlak, atau dengan pengakuan legalitasnya. Dalam masyarakat modern, dasar legitimasi pada umumnya adalah kepercayaan/keyakinan dalam legalitas, kesiapan untuk menyesuaikan dengan aturan yang secara formal benar dan telah diberlakukan dalam prosedur ysang jelas. Mengapa? Karena sebenarnya kesulitan yang dihadapi politisi arab adalah masyarakat arab tidak lagi tradisional, dalam arti bahwa sektor-sektor yang awalnya terpengaruh oleh adat, status, takhayul, tidak lagi menajdi dasar terpercaya untuk memerintah. Dimana masyarakat arab tidak lagi tradisional, tetapi menuju modernisasi yang menyamarkan konduktivitas legitimasi. Selain itu, kemungkinan legitimasi didasarkan pada keyakinan rasional dalam nilai absolut, misalnya dinyatakan dalam penerimaan filsafat hukum alam di barat abad pertengahan, juga berkurang legitimasi di dunia arab modern karena penurunan yurisprudensi Islam sebagai faktor penting dalam pembentukan kebijakan publik. Sehingga penting bagi para elit politik fokus pada perjuangan untuk mengembangkan legitimasi berdasarkan legalitas, yang merupakan inti masalah legitimasi arab. Dan dengan pemimpin pribadi yang kuat dapat menghasilkan legitimasi bagi sebuah kekuasaan atau seluruh sistem. Rezim atau gerakan oposisi yang berhasil dalam mengidentifikasi diri dengan program ideologi yang sangat menonjol mungkin memenangkan dukungan positif. Tentu di dunia Arab para pemimpin yang berhasil mengasosiasikan dirinya dengan pemenuhan tujuan abstrak tapi sangat bernilai yang berkaitan dengan kewajiban suci, identitas perusahaan, atau sangat prinsip dinilai cenderung bertahan lebih lama dan melakukan lebih baik dari mereka yang dapat menimbulkan kepatuhan hanya atas dasar takut atau kemanfaatan. pemimpin seperti itu bahkan mungkin berhasil dalam menghasilkan jenis scarcest tetapi paling abadi legitimasi dari semua legitimasi, struktural atau hukum, yaitu, rasa hormat umum untuk kebenaran dari pengambilan keputusan dan peran ajudikatif dan prosedur dari sistem politik itu sendiri.
Referensi :
“Political Leadership in the Contemporary Midlle East,” dalam Andersen, Roy R. et al, 1998. Politics and Change in the Middle East. New Jersey: Prentice Hall, hlm. 202-226.
“The Legitimacy Problem in Arab Politics”, dalam Hudson, Michael C., 1977. Arab Poltics: the Search for Legitimacy. New Haven and London: Yale University Press, hlm. 1-30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar